Trawl (PUKAT HARIMAU)

I. Deskripsi
Tidak diketahui dengan pasti alat tangkap ini berasal dari mana. Namun, banyak para ahli mengatakan bahwa alat tangkap ini termasuk alat tangkap yang sudah lama digunakan di Eropa Barat dan banyak digunakan di daerah pantai dan lepas pantai. Pada abad ke-16 dan ke-17 di sepanjang perairan pantai Perancis, alat ini telah berkembang walaupun pada mulanya hanya_ ditarik dengan menggunakan perahu layar
Setelah mesin-mesin berkembang, maka trawl juga semakin berkembang dan terjadi perpindahan teknologi dari Eropa Barat ke seluruh dunia dengan berbagai modifikasi. Seiring dengan itu, beberapa negara seperti Jerman mengembangkan kapal-kapal trawlnya mulai dari tahun 1885-sampai sekarang .
Alat tangkap trawl mulai dimodifikasi dari yang sederhana sampai yang lebih maju. Di Indonesia, pada tahun tujuh puluhan alat ini telah memberikan sumbangsih yang sangat besar dalam peningkatan produksi perikanan laut khususnya udang.Namun, karena berbagai dampak negatif yang ditimbulkan terutama terhadap kelestarian sumber daya ikan dan pencaharian dengan nelayan tradisional sehingga berdasarkan Kepres no. 39 tahun 1980 penangkapan ikan dengan trawl di Indonesia dilarang. Sejak saat itu trawl hanya boleh dioperasikan oleh kapal-kapal peneliti. Dengan melakukan modifikasi pada kantong, trawl dapat dioperasikan di beberapa perairan seperti laut Arafuru, khususnya untuk penangkapan udang, yang dikenal dengan nama trawl udang.
Kata “Trawl” sendiri berasal dari bahasa Perancis “troler” dan kata “trailing” adalah dalam bahasa Inggris,mempunyai arti yang bersamaan, dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan kata “tarik” ataupun “mengelilingi seraya menarik”. Ada yang menerjemahkan “trawl” dengan “jaring tarik”, tetapi karena hampir semua jaring dalam operasinya mengalami perlakuan tarik ataupun ditarik, maka ‘agar tidak membingungkan clan selama belum ada ketentuan resmi mengenai peristilahan dari yang berwewenang, dalam uraian selanjutnya kita gunakan kata “trawl” saja

Selanjutnya, Ayodhyoa (1981) mengemukakan bahwa dari kata ‘Trawl’ lahir kata rawling yang berarti “kerja melakukan operasi penangkapan ikan dengan trawl”, dan kata trawler yang berarti “kapal yang melakukan trawling”. Umumnya jaring terdiri dari kantong (codend) yang berbentuk empat persegi ataupun kerucut, dua lembar sayap (wing), dihubungkan dengan tali penarik (warp). Jaring ini ditarik horizontal di dalam air karena mendapat/ menerima tahanan dari air mulut jaring terbuka; keadaan ini diusahakan agar tetap terpelihara selama operasi dilakukan. Dalam mulut jaring yang dibatasi oleh head rope dan ground rope ini diharapkan agar ikan-ikan dan makhluk lain yang menjadi tujuan penangkapan dapat masuk bersama air yang tersaring, dengan perkataan lain ikan-ikan dapat tertangkap. Dengan demikian, jaring bergerak aktif dan mengusahakan (dengan ditarik) agar ikan-ikan masuk ke dalam mulutnya.
Semakin banyak air yang dapat tersaring, atau luas mulut jaring yang maksimum akan menjadikan jumlah volume air yang tersaring selama waktu penarikan menjadi lebih besar jumlahnya, lalu hendaklah pula volume air ini diusahakan semaksimum mungkin, sehingga jumlah tangkapan dapat sebanyak mungkin.
Supaya mulut jaring terbuka selama operasi, ditempuh cara – cara sebagai berikut:
o menggunakan beam pada mulut jaring (beam trawl);
o jaring ditarik oleh dua kapal yang berlayar sejajar, dan jarak antara satu kapal dengan kapallainnya tertentu dan selalu sarna selama waktu penarikan, dan dengan kecepatan yang sarna (paranzela two boat trawling).
o Otter board
II. Jenis-Jenis Trawl
Berdasarkan letak jaring- dalam air selama dilakukan operasi penangkapan ikan, trawl dapat dibedakan atas :
1. Surface trawl (floating trawl), yaitu trawl yang dioperasikan pada permukaan air.
Jaring ditarik dekat permukaan air, dan ditujukan pada ikan¬ ikan yang beruaya pada permukaan air (surfase water). Pada kenyataannya, operasi jenis-jenis trawl ini banyak mengalami kesukaran, sebabnya antara lain ialah pada umumnya jenis-jenis
ikan yang beruaya pad a permukaan air termasuk ikan-ikan yang “good swimmer”. Dengan demikian, haruslah jaring ditarik dengan cepat, dan kecepatan tarik ini harus lebih besar dari swimming speed yang dipunyai ikan yang akan ditangkap. Akibat dari hal ini, kita akan memperoleh resistance yang besar, yang selanjutnya menghendaki HP kapal yang besar. Oleh sebab itulah, surface trawl bertujuan menangkap ikan yang terbatas pada ikan-ikan kedl yang lambat swimming speednya.
2. Mid Water Trawl yaitu trawl yang dioperasikan antara permukaan dan dasar perairan. Jaring ditarik pada depth tertentu secara horizontal, pada depth mana diduga metupakan swimming layer dari ikan-ikan yang menjadi tujuan penangkapan. Untuk menjaga agar mulut jaring tetap terbuka dan selalu berada dalam depth yang dimaksud, selama masa penarikan yang dilakukan dengan kecepatan tertentu, tentulah menghendaki perhitungan-perhitungan yang rumit dan teliti. Secara komersial, midwater trawl telah digunakan untuk menangkap herring di negara-negara Eropa Utara, Kanada dan lain-lain. Sedang untuk Jepang masih dalam taraf penelitian dan percobaan.
3. Bottom Trawl yaitu trawl yang dioperasikan di dasar perairan.
Jenis ini mentapakan jenis yang paling umum. Dengan “trawl” sering langsung diartikan “botttom trawl”. Jaring ini ditarik pada dasar / dekat dasar laut, dengan demikian ikan yang menjadi tujuan penangkapan ialah ikan-ikan dasar (bottom fish) ataupun demersal fish. Termasuk juga disini udang-udangan dan kerang-kerangan. Pad a kenyataannya, sering juga tertangkap ikan-ikan surface yang diduga masuk jaring ketika jaring sedang di tarik naik.
Karena jaring ditarik pada daerah dasar laut, maka perlulah dasar laut tersebut ten;;liri dari pasir ataupun lumpur, tidak berkarang, tidak terdapat benda-benda yang mungkin menyangkut ketika jaring ditarik, misalnya kapal yang tenggelam, bekas¬ bekas tiang, dan lain-lain, dasar mendatar, tidak terdapat perbedaan depth yang sangat menyolok. Jika kita simpulkan, syarat-syarat fishing ground bagi bottom trawl ini, antara lain sebagai berikut.
o Dasar fishing ground terdiri dari pasir,lumpur, ataupun campuran pasir. dan lumpur.

o Kecepatan arus pada midwater tidak besar (di bawah 3 knot) juga kecepatan arus pasang tidak seberapa besar.
o Kondisi cuaca, laut (arus, top an, gelombang, dan lain-lain) memungkinkan keamanan operasi.
o Perubahan milieu oseanografis terhadap mak~luk-makhluk dasar laut relatif kecil dengan perkataan lain kontinuitas resources terjamin untuk diusahakan terus menerus.
o Perairan mempunyai daya produktivitas yang besar serta resources yang melimpah.
Berdasarkan segi operasinya dikenal ada tiga jenis trawl, yaitu sebagaiI berikut.
1. Side trawl, yaitu trawl yang pada waktu operasinya ditarik pada sisi kapal.
2. Stern trawl, yaitu trawl yang ditarik pada bagian belakang kapal.
3. Double rig trawl, yaitu trawl yang ditarik melalui dua rigger yang dipasang pada kedua lambung kapal.
Di dalam prakteknya, kapal-kapal trawl cenderung lebih banyak memakai cara stern trawl sungguh pun kapal-kapal side trawl masih ada juga yang beroperasi.
Jika dibandingkan an tara side trawl dengan stern trawl, maka akan kita peroleh gambaran sebagai berikut.
a. Stern trawl tidak banyak dipengaruhi oleh angin dan gelombang.
Kita dapat melepas jaring tanpa terpengaruh oleh angin, arus dan gelombang. Kita tidak perlu memutar letak badan kapal ataupun drift bersama arus dulu baru melepas jaring seperti halnya pada side trawl.
b. Pada stern trawl warp berada lurus pada garis haluan-buritan, sehingga tenaga trawl winch akan menghasilkan daya guna yang maksimal. Sedang pada side trawl warp ditarik melalui beberapa roller, yang berakibat sebagian tenaga akan hilang pada roller tersebut.
c. Akibat (b), maka pekerjaan melepas/menarik (shooting/haul¬ ing) dari jaring akan memerlukan waktu yang lebih sedikit, artinya waktu untuk jaring berada dalam air (beroperasi) akan lebih banyak. Hal ini juga mengakibatkan jumlah operasi akan lebih banyak.
d. Pada stern trawl, akibat dari screw current, jaring akan segera hanyut. Oemikian pula otter board, segera setelah dilepas akan terus membuka. Pada side trawl, tenaga current tidak bermanfaat bagi pembukaan/hanyutnya jaring.
e. Karena letak jaringakan searah dengan garis haluan-buritan, maka di daerah fishing ground yang sempit sekalipun operasi masih mungkin dilakukan. Oengan perkataan lain, posisi jaring sehubungan dengan gerakan kapal lebih mudah diduga, tidak demikian halnya bagi side trawl.
f. Trawl winch pad a stern trawl terpelihara dari pengaruh angin dan gelombang sehinngga dalam suasana cuaca buruk sekalipun, operasi masih dapat dilakukan dengan mudah.
g. Pada stern trawl, pad a waktu hauling ikan-ikan yang berada di cud end tidak manjadikan beban bagi seluruh jaring, karena cod end tersendiri ditarik melalui slip way, dengan demikian jaring dapat terpelihara, dan lain-lain.
Sungguh pun demikian masih ada hal-hal yang perlu diperhatikan yang sedikit banyak mengurangi efisiensi kerja, antara lain sebagai berikut.
a. Adanya slip way membuat gelombang dapat memasuki dek di buritan, terutama jika kapal dalam keadaan pitching. Hal ini mengganggu pekerjaan di dek.
b. Pemilihan ikan (jenis besar) masih harus dikerjakan oleh tangan manusia.
Berdasarkan jumlah kapal yang digunakan untuk menarik
trawl, maka trawl dapat dibagi atas: \j
1. One boat trawl, yaitu trawl yang di tarik dengan sebuah kapal.
2. Two boat trawl, yaitu trawl yang ditarik oleh dua buah kapal (Gambar 8.5)
Berdasarkan penggunaan alat untuk membuka mulut jaring dikenal: ,.j
1. Bean trawl, yaitu trawl yang menggunakan bean (pentangan).
2. Otter trawl, yaitu trawl yang menggunakan otter bo”ard untuk membuka mulut jaring.
Lama kelamaan dengan meluasnya daerah operasi, dengan sendirinya menghendaki jaring dan kapal yang lebih besar, maka dengan menggunakan beam dianggap tidak sesuai lagi dan untuk membuka mulut jaring orang lebih banyak menggunakan otter board.

III. Teknik Operasi Penangkapan

o Kecepatan dan Lama Waktu Menarik Jaring
Adalah ideal jika jaring dapat ditarik dengan kecep9-tan yang besar, tetapi hal ini sukar untuk mencapainya, karena dihadapkan kepada beberapa hal, antara lain keadaan terbukanya mulut jaring, apakah jaring berada di air sesuai dengan yang dimaksudkan (bentuk terbukanya); kekuatan kapal untuk menarik (HP); ketahanan jaring terhadap tahanan air, resistance yang makin membesar sehubungan dengan catch yang semakin bertambah, dan lain-lain. Faktor-faktor ini berhubungan satu sarna lainnya dan masing¬ masing menghendaki syarat-syarat tersendiri.
Pada umumnya jaring ditarik dengan kecepatan 3 -4 knot. Kecepatan ini pun berhubungan pula dengan swimming speed dari ikan, keadaan dasar laut, arus, angin, gelombang dan lain-lain. Dengan mempertimbangkan faktor-faktor ini, kecepatan tarik dapat ditentukan.
Lama waktu penarikan didasarkan kepada pengalaman¬ pengalaman dan faktor yang perlu dipikirkan ialah banyak sedikitnya ikan yang diduga akan tertangkap, pekerjaan di dek, jam kerja crew dan lain-lain sebagainya. Pacia umumnya waktu penarikan berkisar sekitar 3 – 4 jam, dan kadang kala hanya memerlukan waktu 1 ¬ 2 jam.
o Panjang Warp
Faktor-faktor yang perlu dipikirkan ialah depth, sifat dasar perairan (pasir, lumpur), dan kecepatan tarik. Biasanya, panjang warp sekitar 3 – 4 kali depth. Pada fishing ground yang depth-nya sekitar 9 meter (depth minimum), panjang warp sekitar 6 – 7 kali depth. Jika dasar laut adalah lumpur, maka ada baiknya jika warp diperpendek. Sebaliknya, bagi dasar laut yang terdiri dari pasir keras (kerikil), baik jika warp diperpanjang.
Pengalaman menunjukkan bahwa pada depth yang sarna dari sesuatu fishing ground, adalah lebih baik jika digunakan warp yang agak panjang dari pada yang terlalu pendek. Hal ini dapat dipikirkan sebagai berikut. Bentuk warp pada sa at penarikan tidaklah akan lurus, tetapi merupakan suatu garis catenarian. Pada setiap titik pad a warp akan bekerja gaya-gaya berat dari warp itu sendiri, gaya resistance dari air, gaya tarik dari kapal/winch, gaya ke samping dari otter board, dan gaya-gaya lainnya. Resultante dari seluruh gaya-gaya yang complicated ini ditularkan ke jaring (head rope dan ground rope),dan dari sini gaya-gaya ini rnengenai seluruh tubuh jaring. Pada head rope bekerja bouyancy terhadap air dan lain-lain sebagainya, dan pada ground rope bekerja gaya resistance dari bottom yang berubah-ubah, gaya berat dari catch yang -berubah¬ ubah sernakin rnernbesar, dan gaya-gaya lain.
Gaya tarik kapal bekerja pada warp, beda kerja yang diterirna kapal kadang kala menyebabkan gerak kapal tidak stabil, dernikian pula kapal sendiri terkena oleh gaya-gaya luar (arus, angin, dan gelombang) ..
Diharapkan agar mulut jaring terbuka rnaksirnal, bergerak horizontal pada dasar ataupun pada sesuatu depth tertentu. Gaya tarik yang berubah-ubah, resistance yang berubah-ubah , rnenyebabkan jaring naik turun ataupun bergerak ke kanan dan ke kiri. Rentang yang diakibatkannya, haruslah selalu berirnbang. Warp terlalu pendek, pada kecepatan lebih besar dari batas tertentu akan menyebabkan jaring bergerak naik ke atas (tidak mencecah dasar), warp terlalu panjang dengan kecepatan di bawah batas tertentu akan menyebabkan jaring mengeruk lurnpur. Daya tarik kapal (Hp dari winch) diketahui terbatas. Oleh sebab itu haruslah diperoleh suatu range dari nilai beban yang optimal.
Apa yang terjadi pada saat operasi penarikan, pada hakekatnya adalah rnerupakan suatu keseirnbangan dari gaya-gaya yang com¬ plicated jika dihitung satu sarna lain.

IV. Beberapa Pemikiran dalam Menentukan Jenis Trawl
Beberapa pendapat akan timbul dalam menentukan jenis trawl yang bagaimana yang akan digunakan. Segi pandangan yang berbeda-beda dan faktor-faktor yang dianggap penting yang berbeda¬ beda akan menyebabkan tekanan terhadap hasil utama yang diharapkan dari gear akan berbeda pula. (Ayodhyoa, 1981) Akan tetapi, biar bagaimanapun simpang siurnya pendapat, yang dengan argumentasi yang beraneka ragam, pada hakikatnya akan selalu menghendaki suatu trawl yang efisien untuk sesuatu type fishing di sesuatu fishing ground. Dalam menentukan dimensi dari trawl, ada beberapa faktor yang perlu diperhitungkan, antara lain:
a. Beradanya ikan yang menjadi tujuan penangkapan pada suatu fishing ground yang dimaksud. Hal ini akan menyangkut hasil dari reseources survey. Catch/haul, catch/day, catch/trip, komposisi catch yang diperoleh, bulan demi bulan, musim demi musim dan lain sebagainya akan dapat memberikan gambaran tentang skala usaha.
b. Material dan konstuksi jaring yang sesuai. Ketahanan material dimensi trawl, sehubungan dengan kondisi perairan dalam jangka waktu musim operasi, perubahan-perubahan kondisi perairan arus, an gin, gelombang dll) akan memberikan pengaruh baik pada ketahanan jaring ataupun konstruksi dari jaring yang akan dibuat.
c. Penyesuaian gear terhadap daya kapal yang akan digunakan.
Navigable area, daya tarik maksimum, volume PH. FOT, kekuatan winch.
d. Perlengkapan handling yang diperlukan sesuili dengan jenis ikan yang berada di fishing ground tersebut. Apakah ikan yang tertangkap akan di es, dibekukan, dijadikan tepung dan lain¬ lain.
e. Keahlian skipper dan crew dari kapal yang akan dipergunakan.
Sulitlah mengukur keahlian sese orang, petunjuk dapat dilakukan dengan melihat pendidikan dan pengalaman yang dimiliki. Semakin complicated alat-alat yang dipergunakan, tentulah diperlukan keahlian dan ketelitian yang lebih besar.
f. Perlengkapan tambahan yang memungkinkan efisiensi kerja (fish finder, winch, dan lain-lain). Handling dari alat-alat ini, keahlian crew dalam mempergunakan alat ini sesuai dengan waktu dan kondisi, timing dalam menggunakan, akan menghasilkan efisien yang lebih baik.
V. Jenis-Jenis Ikan yang Tertangkap
Tujuan penangkapan pada bottom trawl ialah ikan-ikan dasar (bottom fish) ataupun demersal fish, termasuk juga jenis-jenis udang (shrimp trawl, double rig shrimp trawl) dan juga jenis-jenis kerang. Dikatakan untuk perairan Laut Jawa, komposisi catch antara lain terdiri dari jenis-jenis ikan petek, kuniran, manyung, utik, ngangas, bawal, tigawaja, pulamah, kerong-kerong, petik, sumbal, layur, remang, kembung, cumi-cumi, kepiting, rajungan, cucut, dan lain¬ lain.
Catch yang dominan untuk suatu fishing ground akan mempengaruhi skala usaha, yang kelanjutannya akan menentukan besar kapal dan gear yang akan dioperasikan. Akan tetapi, jika menggunakan surface trawl tentu ikan-ikan pelagis akan menjadi hasil tangkapan utama, terutama kecepatan renangnya tidak seberapa kuat.
VI. Hal-Hal Lain
Pada saat operasi, sering terjadi hal-hal yang dapat menggagalkan
operasi antara lain dapat disebutkan:
o Karena warp terlalu panjang ataupun speed terlalu lambat atau juga hal-hal lain, maka jaring akan mengeruk lumpur.
o Jaring tersangkut pada karang atau bangkai kapal.
o Jaring ataupun tali temali tergulung pada screw,.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: