Ujian Nasional dapatkah dipertahankan ?

Dapatkah UJIAN NASIONAL DIPERTAHANKAN ?

Malam Senin 14 Juni 2009 dimana para Siswa SMA yang telah yang telah mengikuti Ujian Nasional menanti sesuatu yang selama ini ditunggu-tunggunya. Pengumuman hasil ujian nasional… Yah….. Ujian Akhir Nasional yang disingkat UAN, itulah tahap akhir yang paling mendebarkan bagi siswa kelas 3 SMA untuk selanjutnya melanjutkan studinya di perkuliahan. Selama tiga tahun belajar, ujian yang hanya berlangsung beberapa hari ini saja yang menentukan layak tidaknya siswa lulus SMA atau tidak.

Itulah sebabnya disetiap tahun pada saat pengumuman ujian nasional, selau saja ada peristiwa-peristiwa yang sangat kita sayangkan. Misalnya saja, baru-baru ini klw tidak salah tanggal 13 Juni kemarin, seorang siswi meninggal dunia akibat serangan jantung hal ini dikarenakan setelah melihat pengumuman UN disekolahnya yang menyatakan dirinya tidak lulus. Contohnya lagi di tahun lalu persisnya tahun 2008 (Bersamaan dengan Angkatan qu), seorang siswi juga meninggal akibat serangan jantung tapi peristiwa ini terjadi setelah mengerjakan soal. Ada lagi satu kasus, lagi-lagi seorang siswi (gak tahu kenapa yang saya angkat siswi semua. Mungkin yang terlintas di ingatan ku hanya itu) dia melakukan atraksi bunuh diri lebih persisnya gantung diri…weh…atraksi…(bunuh diri pake’ atraksi juga yah..) hal itu dikarenakan frustasi karena tidak lulus Ujian Nasional (UN)

Dan masih banyak lagi kasus atau peristiwa lainnya yang mungkin anda bisa cari sendiri di sekitar anda. Inilah fakta yang terjadi di lapangan bahwa masih banyaknya siswa yang tidak terlalu siap menghadapi Ujian Nasional. Tiga tahun yang digunakan mencari ilmu dan hanya 3 hari yang digunakan untuk menentukan kelulusan kita…sesuatu yang sangat melelahkan. (Itu menurut ku..ada yang setuju….?)

Menurut salah seorang siswi SMA Negeri 21 Makassar yang bernama Fadhillah Trya Wulandari UN menurut nya, ada positif en negatif nya UN yg mgkin sependapat dgn hampir sluruh pelajar Indonesia,
Positif :
selain untuk menambah minat belajar & brusaha, pelajar Indo scara tdk lgsng diajarkan untuk bersikap Kreatif (u. cari jawaban), Problem Solving, Uji Mental, dan lebihlebih lg jadi ajang Uji Ketakwaan. Kebanyakan dari kita lebih khusyu’ en lebih giat beribadah u. UN ini, smoga ini jd awal yg baik untuk generasi muda yg smakin bobrok iman nya ! amin
Negatif :
UN itu egois. Kenapa? Karena dia anggap dirinya yg paling akurat dalam mnentukan kcerdasan siswa. Padahal dia tidak tau ‘proses’ nya slama ni & mlupakan jasa guru2 yg ‘tau benar’ kemampuan siswa nya.
Lebih lg, ketika dibuat soal dgn tingkat ksulitan MERATA di sluruh Tanah Air, tanpa peduli adanya perbedaan kualitas & kuantitas antara daerah kota en daerah terpencil. Tujuan nya tdk lain hanya u. menyamakan STANDAR SEKOLAH NASIONAL. Padahal mereka tau, setinggi apapun nilai UN tdk akan mengubah sekolah kumuh menjadi setara sekolah gedongan, sbelum mereka menyamakan KUALITAS PENGAJAR & SARANA pendidikan di seluruh pelosok indonesia🙂

Menurut Keputusan Mendiknas No.153/U/2003 Uan salah satu bentuk evaluasi pendidikan untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik. Realitasnya, Uan bertentangan dengan tujuan pendidikan, pelaksanaan UAN hanya mengevaluasi enam mata pelajaran, hanya mengukur aspek kognitif, kompetensi guru tidak seragam dan kompetensi siswa tidak sama, serta kondisi sekolah yang sangat beragam sehingga tidak adil jika harus diukur dengan menggunakan ukuran (standar) yang sama. Masa’ kita harus menyamaratakan misalnya SMA … Makassar yang terkenal unggulan sejak tahun nenek moyang dan sudah menggunakan teknologi terkini dengan SMA……Makassar yang daerahnya terpencil dekat rawa-rawa atau di sekitar sekolahnya banyak ecenggodok (maaf kalau ada kesamaan kriteria sekolah) dan kualitas siswa yang tidak sama. Kalau seperti itu lebih banyak menguntungkan mereka yang telah mendapat fasilitas lebih..Ujian Nasional tidak bisa menyamaratakan pendidikan mereka karena kualitas yang didapatkan masing-masing sekolah itu berbeda.

Pendidikan merupakan salah satu sektor penting dalam pembangunan di setiap negara. Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2004 pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mengembangkan segala potensi yang dimiliki peserta didik melalui proses pembelajaran. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi anak agar memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, berkepribadian, memilki kecerdasan, berakhlak mulia, serta memiliki keterampilan yang diperlukan sebagai anggota masyarakat dan warga negara. Kalau kita garis bawahi pernyataan diatas, pendidikan itu untuk mengembangkan potensi, agar memilki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, dll. Kita lihat lagi ke belakang, bukan menoleh kebelakag yagh. Banyak siswa-siswi yang mempunyai potensi yang baik, akhlak yang baik, cerda juga tapi pada kenyataanya dia tidak lulus dalam ujian Nasional. Klw yang sering dengar berita, ada jugah loh siswa yang juara olimpiade yang gak lulus ujian nasional. Misalnya saja seseorang siswa Sebut saja namanya Munzir, dia adalah siswa yang mempunyai potensi yang baik, di bidang seni, teknologi, pokonya pendidikannya baik, orangnya juga cerdas serta mempunyai akhlak yang baik, disaat mengikuti ujian nasional yang dilaksanakan tiga hari, dia tenang menjawabnya dan yakin untuk lulus. Dan setelah melihat pengumuman, sangat jauh yang diharapkan, dia mengalami stress yang amat sangat dan pada akhinya dapat merusak potensinya. Ingat….hal ini banyak yang terjadi. Apakah ini yang dimaksu dengan Pendidikan. Mungkin kita tidak pernah berpikir sampai disini, tapi itulah kenyataanya.

Realitas yang selama ini terjadi , UAN merupakan tes akhir untuk melihat keberhasilan siswa selama belajar di bangku sekolah (SD, SMP, SMA). Padahal jika kita mau mencermatinya secara lebih kritis, banyak sekali keterbatasan yang menyebabkan hasil UAN tersebut tidak cukup mempresentasikan kemampuan kognitif, afektif, psikomotorik siswa secara komprehensif dan objektif. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Sapaat (2004) bahwa, “Apakah tes soal tipe pilihan ganda dapat digunakan untuk melihat kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa secara menyeluruh selama duduk di bangku sekolah ? Apabila bentuk tes yang gunakan dalam penyelenggaraan hanya berupa tes multiple choice. (pilihan ganda)
UAN berfungsi sebagai alat pengendali mutu pendidikan secara nasional, pendorong peningkatan mutu pendidikan secara nasional, bahan dalam menentukan kelulusan peserta didik , dan sebagai bahan pertimbangan dalam seleksi penerimaan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. UAN merupakan salah satu bentuk evaluasi belajar tahap akhir pelajaran yang diterapkan mata pelajaran yang dianggap penting , walaupun masih ada perdebatan tentang mengapa mata pelajaran itu yang penting dan dianggap yang lain tidak penting. Benarkah bahwa pelajaran matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris dan tambahannya fisika, kimia, biologi (IPA), dan Ekonomi,geografi,dan sejarah (IPS)merupakan mata pelajaran yang paling penting? saya rasa tidak. Apakah sikap tingkah laku atau moral kita dapat dinilai dari matapelajaran tersebut ?

Satu hal lagi yang sangat penting yaitu BOCORNYA SOAL ujian Nasional, disetiap tahun selalu saja terjadi kasus tersebut. dan memang terjadi, terbukti dilapangan setiap malam pada saat ujian nasional, para siswa sibuk mencari kunci jawaban untuk ujian esok harinya. Dan saya yakin dan bisa pastikan yang mendapatkan kunci jawaban tersebut bukan hanya dari siswa sekolah yang tidak diunggulkan tapi juga dari sekolah yang unggulan sekolah yang juga terkenal dengan kecerdasan siswanya.

Inikah yang diinginkan dalam ujian nasional, saya melihat lebih banyak mudharatnya dibanding baiknya.

Dalam keputusan Mendiknas No. 153/U 2003 tentang UAN disebutkan bahwa UAN adalah untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik melalui pemberian tes pada siswa sekolah lanjutan tingkat pertama dan sekolah lanjutan tingkat atas. Selain itu UAN bertujuan untuk mengukur mutu pendidikan dan mempertanggungjawabkan penyelenggaraan pendidikan di tingkat nasional, provinsi, kabupaten sampai tingkat sekolah.
UAN berfungsi sebagai pengendali mutu pendidikan secara nasional mendorong peningkatan mutu secara nasional bahan dalam menentukan kelulusan peserta didik dan sebagai bahan pertimbangan dalam seleksi penerimaan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Kenyataannya UAN hanya mengukur aspek kognitif, hanya melihat kemampuan siswa dalam mengerjakan tes pada waktu itu saja. Pelaksanaan UAN meremehkan mata pelajaran yang lain karena hanya mata pelajaran matematika, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris dan pelajaran tambahan IPA dan IPS yang dianggap penting.
Pelaksanaan UAN memicu tindak tidak terpuji terjadinya kecurangan yang mencoreng dunia pendidikan untuk mempertanggungjawabkan proses belajar mengajar pada masyarakat dan gengsi sekolah.
UAN bertentangan dengan kebijakan otonomi daerah dan otonomi sekolah melalui manajemen berbasis sekolah, karena kebijakan diatur dari pusat.
Pelaksanaan UAN ibarat melombakan kuda pacu yang dipersiapkan secara matang dengan kondisi dan fasilitas serba lengkap dengan kuda pacu yang kekurangan gizi dan kurang fasilitas sarana dan prasarana yang serba kekurangan. Nilai kelulusan siswa di sekolah unggulan dengan fasilitas yang memadai diersandingkan dengan nilai siswa di sekolah tertinggal yang serba kekurangan, maka target untuk menghasilkan nilai UAN untuk memenuhi standar yang sama dinilai tidak adil, karena kondisi mutu sekolah yang sangat beragam sehingga tidak adil jika diukur dengan menggunakan ukuran yang sama.
Jadi masih dapatkah UAN dipertahankan ?

Wallahu a’lam bishawwaf…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: